Jumat, 03 Juni 2016

Wahai Pemimpin

Kepada pemimpin yang bersahaja..
Bolehkah aku bertanya?
Padamu yang tak memiliki banyak waktu..
Wahai pemimpin!
Mengapa tanahku menjadi gersang?
Mengapa air ku menjadi hitam?
Mengapa banyak hal yang tak sesuai?
Mengapa banyak anak yang kelaparan?

Aku terserok-serok kepada kenistaan ketidakmampuanku.
Aku tak bisa banyak berbuat.
Hutanku gundul!
Emas, berlian, Intan, permata ku dicuri..
Minyakku dihabisi..
Lantas bagaimana mana menurutmu pemimpin?

Kini, para anak telah menjadi liar karena lapar.
Makan ganja, minum oplosan..
Bergembira dengan tontonan setan.
Aku berdarah dalam hati.
Aku tak bisa berbuat banyak.
Lantas bagaimana menurutmu pemimpin?

Bobrokkah bangsa ini?
Atau aku yang tak bisa bersyukur karena tak dijajah?
Oh! Bukankah kita dijajah oleh saudara sendiri.
Pemimpin! Apa kita telah merdeka?
Jelas mereka.
Apa benar merdeka?

Wahai pemimpin.
Tolong jawablah pertanyaan anak kemarin sore ini

Selasa, 31 Mei 2016

Hai Gagah

Pernahkah kamu harus lari?
Sehingga semua harus kau tinggali..
Semua hal harus disingiri..
Hanya untuk melupakan dia yang tak kunjung pergi..

Hingga terasa ulu hati tergoyak-goyak,
Seakan robek dicampakan kenangan..
Perih, sakit, kaku, berkat rasa yang terus berkarat..

Mungkin ini adalah rasa Cinta.
Namun entah mengapa ini menyiksa..
Dilemparkan besi dan baja..
Namun tak kunjung jua aku melupakanmu yang tak peka...

Hai Gagah..
Kusebut kau Gagah..
Penakluk hati..
Namun beku hatimu..
Tak pekakah padaku?
Yang terlanjur Cinta...
yang terlanjur menangisi kekalahan ini...